Selasa, 15 Maret 2011

Alat tangkap long line

PENANGKAPAN IKAN DENGAN LONG LINE

Long line terdiri dari rangkaian tali utama ,tali pelampung dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan lebih kecil dia meternya, dan diujung tali cabang ini diikat pancing yang berumpan. Ada beberapa jenis long line. Ada yang dipasang didasar perairan serta tetap dalam jangka waktu tertentu dikenal dengan nama rawai tetap atau bottom long line atau set long line yang biaanya digunakan untuk menangkap ikan ikan demarsal .ada juga rawai yang hanyut yang biasa disebut degan dript long line, biasanya digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis .yang paling terkenal adalah tuna long line atau disebut juga dengan rawai tuna,.walaupun dalam kenyataannya bahwa hasil tangkapnnya bukan bukan ikan tuna tetapi juga jenis0jenis ikan lain seperti layaran ,ikan hiu dan lain-lain. Secara perinsip rawai tuna sama seperti rawai-rawai lainnya,namun mengingat faktor biologi ikan sasaran ,tekhnik pengoperasian alat,komponent alat bantu ,kapal yang tersedia, maka dilakukan berbagai penyesuaian.bahan tali pancing terbuat dri bahan monofilament(PA) atau multifilamant (PES seperti terylene, Pva seperti kuralon atau PA seperti nylon).perbedaan pemakaian bahan ini akan mepengaruhi line hauler yang diperlukan.beberapa perbedan dari kedua jenis bahan tersebut dipandang dari segi teknis adalah sebagai berikut.
  • Bahan multifilament lebih berat dan mahal dibandingkan dengan monofilament, lebih mudah dirakit,dan lebih sesuai untuk kapal-kapal kecil.
  • Bahan multifilamant lebih mudah ditangani dan lebih tahan lama.karena itu,dalam jangka panjang rawai multifilament harganya relatif lebih rendah.
  • Karena lebih kecil, halus, dan transparan maka pemakaian monfilament dinilai akan memberi hasil tangkapan lebih baik dari multifilament.
Dilihat dari segi kedalaman operasi (fishing depth) rawai tuna dibagi dua yaitu bersifat dangkal dan yang bersifat dalam yang pancingnya berada pada kedalaman 100-300m. Perbedaan kedua jenis ini disebabkan pada tipe dangkal satu basket rawai diberi sekitar 5 pancing sedangkan pada tipe dalam diberi 11-13 pancing sehingga lengkungan tali utama, menjadi lebih dalam. Dalam beberapa sifat dari kedua tipe ini adalah :
  • Rawai tipe dalam memerlukan line hauler yang lebih kuat dibanding tipe dekat permukan.
  • Rawai tipe dalam menangkap jenis big eye yang lebih banyak ( sehingga nilai produksinya lebih baik )dibanding tipe permukaan.tuna yang tertangkap dengan rawai dangkal didominasi oleh yellowfin tuna yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan big eye.Pelepasan pancing (setting) dilakukan menurut garis serong atau tegak lurus pada arus.waktu melepas pancing biasanya dini hari tergantung jumlah basket yang akan dipasang karena diharapkan setting selesai pada pagi hari jam 07.00 saat ikan giat cari mangsa.akan tetapi pengoperasian siang hari pun bisa dilakukan .namun akibatnya penarikan pancing (hauling )jatuh pada waktu sore hari.
Umpan yang umum dipakai adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat,tidak cepat busuk,dan rangka tulangnya kuat sehingga tidak mudah lepas dari pancing bila tidak di sambar ikan.beberapa jenis diantaranya adalah bandeng,saury,tawes, kembung,layang, dan cumi-cumi.panjang umpan berkisar antara 15-20 cm, dengan berat 80-150 gram.cumi0cumi kecil masih dapat dipakai asalkan digabung (dijahit) beberapa ekor sehingga menjadi cukup besar.umpan ini harus berasal dari ikan-ikan yang benar-benar segar dan dilakukan dengan baik agar tahan dalam waktu yang lama.
Bagian-bagian dari tuna long line
Seperti alat penangkap lainnya ,satu unit long line terdiri dari kapl yang dirancang khusus,alat penangkap dan crew.kapal-kapal tuna long line modern bagian belakang dari kapal ini telah dirancang dengan baik untuk mudah operasi dan pengaturan alat penangkap. Tuna long line sendiri pada umumnya terdiri dari : pelampung, bendera, tali pelampung, main line,branch line,pancing wire leader,dan lain-lain.antara pelampung dengan pelampung dihubungkan dengan tali pelampung dan tali utama dimanasepanjan tali utama terpasang beberapa tali cabang.satu rangkaian alat inilah yang disebut dengan satu basket long linejumlah mata pancing pada setiap basket bervariasi.untuk lebih detail pengetahuan tentang alatini kita lihat bagian demi bagian.
1. Pelampung (float)
Pelampung yang digunakan pada long line terdiri dari beberapa jenis yaitu pelampung bola,pelampung bendera,pelampung radio, dan pelampung lampu.warna pelampung harus berbeda atau kontras dengan warna air laut.hal ini dimakasudkan untuk mempermudah mengenalnya darijarak jauh setelah setting.
  • Pelampung bolaPelampung bola biasanya terpasang padaujung basket dari alat tangkap.pelampung bola ini terbuat dari bahan sintetic dengan dimeter 35 cm dan ada yang lebih besar.untuk long line dengan jumlah basket 70 maka jumlah pelampung bola yang digunakan adalah 68 buah, pada ujungnya terdapat pipa setinggi 25 cm dan stiker scotlight yang sengat berguna bila alat penangakap tersebut terputus maka mudah menemukannya.untuk melindungi pelampung-pelampung tersebutdari benturan yang dapat menyebabkan pecahnya pelampung tersebut, maka pelampung tersebut dibalut dengan anyaman tali polyehylene dengan diameter 5mm.
  • Pelampung benderaPelampung bendera merupakan pelampung yang pertamakali diturunkan pada waktu setting dilakukan. Biasanya diberi tiang (dari bambu atau bahan lain) yang panjangnya bervariasi sekitar 7 m dan diberi pelampung.supaya tiang ini berdiri tegak maka diberi pemberat.
  • Pelampung lampuPelampung ini biasanya menggunakan balon 5 watt yang sumberlistriknya berasal dari baterai yang terletak pada bagianu ujung atas pipa atau bagian bawah ruang yang kedap air.pelampung ini dipasang pada setiap 15 basket yang diperkirakan hauling pada malam hari.fungsinya adalah untuk penerangan pada malam hari dan memudahkan pencarian basket bila putus.
  • Pelampung radio bouySebuah radio bouy dilengkapi dengan transmiter yang mempunyai frekuensi tertentu.daerah tranmisinya bisa mencapai 30 mil.jika dalam pengoperasian long line menggunakan radio bouy,maka kapal harus dilengkapi dengan radio direction finder(RDF).peralatan ini berfungsi untuk menunjukan arah lokasi radio bouy dengna tepat pada waktu basket putus.
2. Tali pelampung
Tali pelampung berfungsi untuk mengatur kedalaman dari alat penangkap sesuai dengan yang dikehendaki.tali pelampung ini biasanya terbuat dari bahan kuralon.
3. Tali utama (main line)
Tali utama atau main line adalah bagian dari potongan-potongan tali yang dihubungkan antara satu dengan yang lainsehingga membentuk rangkaian tali yang sangat panjang.tali utama harus cukup kuat karena menanggung beban dari tali cabang dan arikan ikan yang terkait pada mata pancing.pada kedua ujung pada main line dibuat simpul mata. Main line basanya terbuat dari bahan kuralon yang diameternya 0,25 inci atau lebih. Panjang main line tergantung dari panjang dan jumlah branch line,karena setiap penemuan kedua ujung main line merupakan tempat pemasangan branch line.
4. Tali cabang (branch line)
Bahan dari tali cabang biasanya sama dengan tali utama, perbadaanya hanya pada ukuran saja,dimana ukuran tali cabang lebih kecildari tali utama.satu set tali cabang ini terdiri dari tali pangkal, tali cabang utama, wire leader yang berfungsi agar dapatmenahan gesekan pada saat ikan terkait pada pancing, dan pancing yang terbuat dari bahan baja, biasnaya menggunakan pancing no.7 Umpan merupakan bagian yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penangkapan ikan dengan tuna long line.ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi umpan pada alat penangkap ini antara lain adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat dengan warna yang menarik sehingga dengan mudah dapat dilihat pada jarak yang jauh,kemudian tidak cepat busuk,rangka tulang kuat sehingga tidak mudah lepas dari pancing bila tidak disambar ikan, mempunyai bau yang cukup tajam dan merangsang serta disukai oleh ikan yang dipancing, tersedia dalam jumlah yang besar,dan murah harganya. Ikan bandeng, ikan kembung, ikan layang dan cumi-cumi merupakan jenis umpan yang banyak digunakan.
5. Perlengkapan lainnya
Perlengkapan lainnya yang dimaksud adalah alat-alat yang dipergunakan untuk mempermudah dan mememperlancar kegiatan operasi penangkapan diakapl antara lain adalah radar, RDF, line hauler, marline spike, catut potong, ganco, sikat baja, jarum pembunuh, pisau, dan lain-lain. Tekhnik operasi penangkapan Setelah semua persiapan telah dilakukan dan telah tiba di fishing ground yang telah ditentukan . setting diawali dengan penurunan pelampung bendera dan penebaran tali utama, selanjutnya dengan penebaran pancing yang telah dipasangi umpan.rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing 0,6 menit/ pancing.pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus terhadap arus.waktu melepas pancing biasanya wktu tengah malam,sehingga pancing telah terpasang waktu pagi saat ikan sedang giat mencari mangsa. Akan tetapi, penggoperasian pada siang hari dapat pula dilakukan. Penarikan alat penangkap dilakukan setelah berada didalam air selama 3-6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang diatur kecepatannya. Masing-masing anak buah kapal telah mengetahui tugasnya sehingga alat penangkap dapat diatur dengan rapi.lamanya penarikan alat penangkap sangat ditentukan oleh banyakny hasil tangkapan dan faktor cuaca. Penarikan biasanya memakan waktu 3 menit / pancing.perusahaan perikanan samudra bedar di bali melakukan hauling sekitar 9-11 jam.

BUBU

A. Pendahuluan
Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “ guiding barriers “.
Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :
1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots).
Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan.
2. Bubu Apung (Floating Fish Pots).
Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan.
3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots).
Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan.
Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang lain seperti :
  1. Bubu Jermal.
Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang surut (tidal trap).
  1. Bubu Ambai.
Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut ukuran kecil.
  1. Bubu Apolo.
Hampir sama dengan bubu ambai, bedanya ia mempunyai 2 kantong, khusus
menangkap udang rebon.
B. Konstruksi Bubu
Bentuk bubu bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical),gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo`s splitting or-screen).
Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.
Ø Badan (body).
Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung.
Ø Mulut (funnel).
Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar.
Ø Pintu.
Bagian tempat pengambilan hasil tangkapan.
B.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar bervariasi, menurut besar kecilnya yang dibuat menurut kebutuhan. Untuk bubu kecil, umumnya berukuran panjang 1m, lebar 50-75 cm, tinggi 25-30 cm. untuk bubu besar dapat mencapai ukuran panjang 3,5 m, lebar 2 m, tinggi 75-100 cm.
B.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Tipe bubu apung berbeda dengan bubu dasar. Bentuk bubu apung ini bisa silindris, bisa juga menyerupai kurung-kurung atau kantong yang disebut sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu yang penggunaannya ada yang diletakkan tepat di bagian atasnya.
B.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Bubu hanyut atau “ pakaja “ termasuk bubu ukuran kecil, berbentuk silindris, panjang 0,75 m, diameter 0,4-0,5 m.
B.4. Bubu Jermal
Ukuran bubu jermal, panjang 10 m, diameter mulut 6 m, besar mata pada bagian badan 3 cm dan kantong 2 cm.
B.5. Bubu Ambai
Bubu ambai termasuk perangkap pasang surut berukuran kecil, panjang keseluruhan antara 7-7,5 m. bahan jaring terbuat dari nilon (polyfilament). Jaring ambai terdiri dari empat bagian menurut besar kecilnya mata jaring, yaitu bagian muka, tengah, belakang dan kantung. Mulut jaring ada yang berbentuk bulat, ada juga yang berbentuk empat persegi berukuran 2,6 x 4,7 m. pada kanan-kiri mulut terdapat gelang, terbuat dari rotan maupun besi yang jumlahnya 2-4 buah. Gelang- gelang tersebut dimasukkan dalam banyaknya jaring ambai dan dipasang melintang memotong jurusan arus. Satu deretan ambai terdiri dari 10-22 buah yang merupakan satu unit, bahkan ada yang mencapai 60-100 buah/unit.
B.6. Bubu Apolo
Bahan jaring dibuat dari benang nilon halus yang terdiri dari bagian-bagian mulut, badan, kaki dan kantung. Panjang jaring keseluruhan mencapai 11 m. Mulut jaring berbentuk empat persegi dengan lekukan bagian kiri dan kanan. Panjang badan 3,75 m, kaki 7,25 m dan lebar 0,60 m. pada ujubg kaki terdapat mestak yang selanjutnya diikuti oleh adanya dua kantung yang panjangnya 1,60 m dan lebar 0,60 m.
C. Hasil tangkapan Bubu
C.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.
C.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Hasil tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll.
C.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish).
C.4. Bubu Ambai
Hasil tangkapan bubu ambai bervariasi menurut besar kecilnya mata jaring yang digunakan. Namun, pada umumnya hasil tangkapannya adalah jenis-jenis udang.
C.5. Bubu Apolo
Hasil tangkapan bubu apolo sama dengan hasil tangkapan dengan menggunakan bubu ambai, yakni jenis-jenis udang.
D. Daerah Penangkapan
D.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.
D.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman tali, yang biasanya dipasang pada kedalaman 1,5 kali dari kedalaman air.
D.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.
D.4. Bubu Jermal dan Bubu Apolo
Dalam operasi penangkapan, kedua bubu di atas diletakkan pada daerah pasang surut (tidal trap). Umumnya dioperasikan di daerah perairan Sumatera.
D.5. Bubu Ambai
Lokasi penangkapan bubu ambai dilakukan antara 1-2 mil dari pantai.
E. Alat Bantu Penangkapan
Dalam operasi penangkapan, terdapat alat bantu penangkapan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak.
Alat bantu penangkapan tersebut antara lain :
· Umpan.
Umpan diletakkan di dalam bubu yang akan dioperasikan. Umpan yang dibuat disesuaikan dengan jenis ikan ataupun udang yg menjadi tujuan penangkapan.
· Rumpon.
Pemasangan rumpon berguna dalam pengumpulan ikan.
· Pelampung.
Penggunaan pelampung membantu dalam pemasangan bubu, dengan tujuan agar memudahkan mengetahui tempat-tempat dimana bubu dipasang.
· Perahu.
Perahu digunakan sebagai alat transportasi dari darat ke laut (daerah tempat pemasangan bubu).
· Katrol.
Membantu dalam pengangkatan bubu. Biasanya penggunaan katrol pada pengoperasian bubu jermal.
F. Teknik Operasi (Sitting dan Hunting)
F.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu berukuran
besar), bisa ganda (umumnya bubu berukuran kecil atau sedang) yang dalam
pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan
bubu tersebut. Bubu dipasang di daerah perairan karang atau diantara karang-karang
atau bebatuan. Bubu dilengkapi dengan pelampung yang dihubungkan dengan tali
panjang. Setelah bubu diletakkan di daerah operasi, bubu ditinggalkan, untuk
kemudian diambil 2-3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari.
F.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh melalui
tali panjang dan dihubungkan dengan jangkar. Panjang tali disesuaikan dengan
kedalaman air, umumnya 1,5 kali dari kedalaman air.
F.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang
kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya
menjadi banyak, antara 20-30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang akan
digunakan dalam penangkapan.
Operasi penangkapan dilakukan sebagai berikut :
  1. Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.
  2. Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).
  3. Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur sampai + antara 60-150 m.
F.4. Bubu Jermal
Pada bubu jermal, operasi penangkapan dilakukan dengan menekan galah yang
terdapat pada kanan/kiri mulut jaring ke bawah sampai di dasar sehingga mulut
kantung jaring terbuka. Bubu kemudian diangkat setelah dibiarkan 20-30 menit.
Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dengan menutup mulut jaring dengan cara
mengangkat bibir bawah ke atas, kemudian diikuti mengangkat bagian-bagian tengah
kantong melalui katrol-katrol. Pengambilan hasil dilakukan dengan membuka ikatan
tali pada ujung belakang kantong.
F.5. Bubu Ambai
Penangkapan dengan bubu ambai dilakukan pada waktu air pasang maupun surut.
Arah dari mulut jaring dapat dibolak-balik dihadapkan darimana datangnya arus.
Setelah 15-20 dari pemasangan, dapat dilakukan pengambilan hasil, yaitu dengan
mengangkat bagian bawah mulut ke permukaan air dengan mempertemukan bibir
atas dan bawah. Demikian seterusnya dilakukan hingga seluruh deretan ambai selesai
dikerjakan, kemudian dilakukan pembukaan tali-tali pengikat pada ujung belakang
kantung. Operasi penangkapan dilakukan 2-3 orang untuk tiap kali penangkapan,
tergantung banyak sedikitnya unit atau jaring yang dipakai.
F.6. Bubu Apolo
Pengoperasian bubu apolo dilakukan baik siang ataupun malam hari pada waktu
air pasang maupun surut. Pengoperasian apolo ini memerlukan 2-3 orang. Tempat
melakukan operasi penangkapan, yakni 1-2 mil dari pantai.
G. Hal-hal Yang Mempengaruhi Penangkapan
Dalam setiap operasi penangkapan nelayan harus memperhatikan hal-hal yang
mungkin akan mempengaruhi hasil tangkapannya.Antara lain factor adanya lampu
sebagai alat bantu atau mungkin rumpon.Selain hal tersebut diatas perlu
diperhatikan efektifitas penangkapan,sehingga perlu adanya perkiraan hari dan
hitungan bulan(apakah ini termasuk bulan terang ataukah termasuk bulan mati)

Kamis, 09 Desember 2010

Kapal perang


Pertempuran Armada Sepanyol dan Inggeris 1588, penggunaan kapal perang menyelamatkan England dari dijajah
The Cannon Shot oleh Willem van de Velde the Younger, menunjukkan kapal perang Belanda abad ke-17
Kapal perang (warship) merupakan kapal yang dibina bagi tujuan peperangan. Lazimnya ia dibina mengikut garis panduan yang berbeza dari kapal-kapal awam. Selain dilengkapi senjata pemusnah, kapal perang juga berupaya menangkis serangan kapal lawan atau setidaknya menyerap sedikit kerosakan akibat serangan. Ia juga lazimnya lebih laju dan lincah dari kapal dagang atau kapal-awam yang lain. Kapal-kapal perang selalunya dioperasikan oleh pihak tentera laut, bagaimanapun, kadangkala terdapat pihak lain seperti syarikat atau individu yang memiliki dan mengoperasikannya.

Isi kandungan

 Evolusi kapal perang

sebuah trireme Yunani
Kapal perang mempunyai sejarah yang panjang. Bermula apabila manusia mampu menerokai lautan untuk tujuan kegiatan perikanan, diikuti dengan aktiviti perdagangan dan akhirnya membawa kepada perluasan kuasa di seberang laut, memerlukan penubuhan angkatan laut dan kapal-kapal perangnya. Ini semua bagi melindungi rakyat dan ekonomi negara tersebut.

Era ghali

Pertempuran Lepanto, 1571, diantara Uthmaniyyah dan kuasa-kuasa Kristian masih menggunakan ghali
Ketika zaman ketamadunan Yunani, Empayar Parsi dan Empayar Rom, jenis kapal perang yang wujud ialah ghali (English: galley). Ia berbentuk tirus dan digerakkan menggunakan dayung. Terdapat tiga jenis ghali yang digunakan di era Yunani dan Rom, iaitu bireme, trireme dan quinquereme. bireme mempunyai dua tingkat pendayung, trireme, tiga tingkat dan quinquereme mempunyai empat. Ghali-ghali jenis ini biasanya hanya mempunyai satu tiang layar empat segi untuk pelayaran menggunakan kuasa angin. Di kala pertempuran tiang layar boleh ditanggalkan dan disimpan. Taktik yang biasa digunakan ialah merempuh kapal-kapal lawan untuk meneggelamkannya. Laskar-laskar yang berada diatas kapal juga boleh menyerbu kapal musuh yang dirapati. Taktik ini digunakan sehinggalah perkembangan penciptaan manjanik pada kurun keempat sebelum masihi membolehkan pertempuran dilakukan dari jarak jauh. Sekitar 900 Masihi Empayar Rom Timur atau Bizantin telah menggunakan sejenis ghali yang dikenali sebagai dromon. Dromon masih bergantung pada kuasa pendayung tetapi juga dilengkapi tiga layar tiga segi. Ia juga dilengkapi Greek Fire atau "Api Yunani", senjata pelontar api yang menggerunkan. Ghali masih digunakan sehingga Zaman Pertengahan, dan nama ghali diguna untuk kapal-kapal yang masih menggunakan kuasa dayung. Ketika era ini manjanik telah diganti dengan berbagai jenis meriam dan mortar

Era layar

Pertempuran Trafalgar
Pada kurun ke 14 senjata kapal perang mula mengalami peningkatan dengan penciptaan meriam. Disebabkan keperluan memuatkan meriam di sisi kapal dan saiz kapal yang semakin besar, beransur-ansur, tenaga pendayung tidak digunakan dengan berkesan lagi. Kapal-kapal pada zaman ini bergantung kepada kuasa angin dari layar untuk menggerakkannya. Bermula dengan geliung (English:galleon) pada kurun ke 16 dan berubah ke rekaan ship of the line yang lebih stabil untuk penjelajahan lautan dan aturan meriam. Nama ship of the line ataupun lengkapnya ship of the line of battle diguna kerana zaman ini menyaksikan kapal-kapal bertempur dalam barisan panjang dari haluan ke buritan iaitu line of battle supaya sebanyak mungkin meriam di sisi dapat digunakan. Nama ini akhirnya diringkaskan menjadi battleship iaitu yang kita kenali sebagai kapal tempur kini. Taktik merapati dan menyerbu kapal musuh juga banyak digunakan terutama setelah kapal musuh hampir lumpuh. Era ini juga berlaku pertempuran-pertempuran yang masyhur seperti Pertempuran Sungai Nil, Pertempuran Cape St Vincent dan Pertempuran Trafalgar. Tentera Laut Diraja British telah mencipta pengkelasan kapal-kapal perang pada pertengahan abad ke 17 dan membahagikan kepada tujuh kategori (first rate, second rate, third rate, fourth rate, fifth rate, sixth rate, unrated)mengikut bilangan meriam yang dibawa.
Jenis-jenis kapal perang yang terdapat ketika era layar adalah:-
Kapal First Rate HMS Victory 1884. Kapal ini masih dipelihara dan boleh dilawati di Portsmouth, England
  • Ship of the line of Battle/Ship of the Line
    • First rate-100 meriam atau lebih pada 3 tingkat dek
    • Second rate-90 ke 98 meriam pada 3 dek
    • Third rate-64 ke 80 meriam (lazimnya 74 meriam) dengan dua dek
    • Fourth rate-46 ke 60 meriam dengan dua dek meriam
  • Frigate
    • Fifth rate-32 ke 44 meriam pada dua dek
    • Sixth rate-20 ke 28 meriam, kadangkala dipanggil corvette atau frigate kecil
  • Sloop
    • (unrated) -sehingga 18 meriam

Era kuasa wap

Kurun ke 19 menyaksikan terciptanya enjin kuasa wap dan propulsi atau pendorongan kapal mengalami revolusi sekali lagi. Penciptaan besi keluli juga memungkinkan kapal-kapal perang dilengkapi perisai tebal. Keperluan ini timbul akibat kapal era ini memuatkan meriam yang lebih moden dan berkuasa yang menembak peluru letupan tinggi. Era ini bermula dengan pelancaran La Gloire oleh Perancis yang masih mengekalkan rekabentuk era layar tetapi dilapisi perisai waja dan mempunyai enjin kuasa wap. Secara beransur-ansur ship of the line dan frigate diganti dengan kapal tempur dan penjajap (English: cruiser) berkuasa wap. Dan, buat pertama kali meriam dimuatkan dalam turet atau perumah yang boleh berputar. Berlaku pula Pertempuran di Hampton Roads diantara tentera laut Union dan Confederate pada 1862 melibatkan kapal berperisai kedua belah pihak. Dengan penciptaan torpedo pada akhir kurun tersebut membolehkan bot-bot torpedo dihasilkan, satu konsep baru ketika itu. Bot torpedo bukan sahaja laju malahan juga murah dan menawarkan alternatif kepada pembinaan kapal tempur yang mahal.
Model kapal berperisai Perancis La Gloire

 Era Dreadnought

HMS Dreadnought
Era ini bukan hanya kesinambungan dari era sebelumnya, tetapi mempunyai cerita tersendiri. Boleh dikatakan era ini kemuncak bagi kapal tempur sebagai kapal utama tentera-tentera laut sebelum diambil alih oleh kapal pengangkut pesawat. Ketika ini juga berlangsungnya Perang Dunia Pertama yang mengandungi Pertempuran Jutland. Bermulanya abad ke 20, Britain sebagai kuasa laut yang unggul, melancarkan kapal tempur HMS Dreadnought pada tahun 1906. Kapal ini mempunyai propulsi turbin wap membolehkannya mengatasi kelajuan kapal-kapal lain dan dilengkapi meriam dan perisai yang lebih maju. Sekaligus pelancarannya menjadikan kapal-kapal perang lain ketinggalan zaman lantas mencetuskan perlumbaan senjata di antara kuasa-kuasa besar ketika itu. Ini kerana, di zaman itu kekuatan sesebuah negara dan kebolehannya meluaskan pengaruh diukur dari bilangan kapal tempur yang dimiliki. Generasi awal Dreadnought dilengkapi sekitar meriam 12 inci, perisai sekitar 12 inci tebal yang mampu menyerap hentaman dari kapal tempur lain pada jarak 10,000 ela. Kemuncak program Dreadnought ialah dengan terhasilnya battlecruiser HMS Hood pada tahun 1918. Kapal ini dilengkapi lapan meriam 15 inci dan perisai sehingga 12 inci. Serentak dengan pembangunan Dreadnought, pembinasa bot torpedo dibina untuk melindungi kapal-kapal utama dari ancaman bot-bot torpedo

 Evolusi ketika Perang Dunia Kedua

Perang Dunia Kedua menyaksikan beberapa perkembangan penting iaitu keutamaan kuasa udara yang menyebabkan pembinaan kapal pengangkut pesawat dan penggunaan kapal selam secara meluas. Pertempuran laut ketika ini berlaku disetiap penjuru lautan dengan berbagai strategi dan taktik baru diperkenalkan.

 Pembangunan kapal selam

U-Boat, U-47
Kapal selam mula dibangunkan sebelum Perang Dunia Kedua lagi, bagaimanapun penggunaan yang paling berkesan disaksikan ketika itu hampir melumpuhkan ekonomi Britain dan mengakibatkan kehilangan yang teruk kepada pihak Bersekutu. Kapal selam dicipta lewat kurun ke-19, tetapi hanya menimbulkan kesan setelah digabungkan dengan senjata torpedo. Tugas kapal selam pada awalnya terhad kepada anti kapal berkembang dengan pembangunan periuk api laut, sistem sonar dan torpedo pencari. Kegerunan terhadap armada U-Boat (German: unterseeboot) memaksa pula kapal pengiring direka, antaranya pembinasa pengiring (English: destroyer escort), frigat (frigate) dan korvet (corvette). Nama-nama frigat dan korvet ini kekal digunakan sehingga hari ini.

 Pembangunan kapal pengangkut pesawat

Kapal pengangkut pesawat USS Saratoga sekitar tahun 1935
Bermula dengan melancarkan kapal terbang amfibia, kapal pengangkut pesawat mencapai kematangan ketika Perang Dunia Kedua dengan keupayaan melancarkan dan mendaratkan kapal terbang konvensional menggunakan landasan. Setelah terbuktinya keupayaan ofensif kapal pengangkut pesawat dalam serangan Taranto dan Pelabuhan Pearl, ia terus menjadi kapal utama dalam armada angkatan laut. Kebolehannya melancarkan serangan pada jarak jauh di luar jangkauan penglihatan menyebabkan kapal ini mengambil peranan utama, lantas menurunkan kapal tempur kepada peranan sekunder.

Selain dari pembangunan dua jenis kapal tersebut, ketika era ini juga definisi jenis-jenis kapal perang tampak kejelasan dan mudah dikenalpasti. Jenis-jenis kapal era ini mengikut susunan menurun ialah:-
  • Kapal utama (capital ship)
    • Kapal pengangkut pesawat
    • Kapal tempur
    • Kapal kruiser tempur (battlecruiser)
  • Kapal kruiser
    • Kruiser berat (heavy cruiser)
    • Kruiser ringan (light cruiser)
  • Kapal pengiring
    • Pembinasa
    • Frigat
    • Korvet
  • Kapal selam
  • Kapal-kapal lain
    • Kapal penyapu ranjau
    • Kapal bantuan
    • Kapal pendarat

Kapal perang moden

Frigat kelas La Fayette, FS Surcouf merupakan antara termoden di dunia menampilkan teknologi halimunan
Kapal perang moden boleh dikategorikan kepada tujuh kumpulan utama iaitu pengangkut pesawat, kruiser (penjajap), pembinasa, frigat, korvet, kapal selam dan kapal serangan amfibia. Kapal tempur pula dianggap kategori kelapan, tetapi ia tidak terdapat di dalam mana perkhidmatan aktif mana-mana tentera laut di dunia ketika ini dan hanya Amerika Syarikat yang mengekalkannya dalam simpanan (kelas Iowa). Dalam era moden definisi kapal perang utama (capital ship) telah mengalami perubahan. Kini kapal pembinasa dan ke atas dianggap kapal utama mana-mana armada dan hanya dimiliki negara-negara yang mampu dan mempunyai komitmen tinggi terhadap angkatan laut dan negara-negara yang berhasrat meluaskan pengaruh dan mengunjurkan kuasa.
Masa kini, perbezaan tugas dan ciri-ciri penting antara kruiser, pembinasa, frigat dan korvet tidak lagi ketara dan kadangkala kabur. Sebuah kelas kapal mungkin dikategorikan sebagai frigat oleh satu pihak manakala satu pihak yang lain menggelarnya pembinasa. Ini disebabkan kepelbagaian fungsi dan kebolehan kapal-kapal perang moden. Pengkelasan kapal melalui sesaran juga tidak lagi berkesan kerana di zaman ini sebuah frigat mungkin mempunyai berat sehingga 5800 tan (kelas Alvaro de Bazán) (seberat sebuah kruiser Perang Dunia Kedua) dan sebuah pembinasa hanya seberat 3600 tan (kelas Audace). Tambahan pula kebanyakan negara mengambil sikap mengelakkan provokasi dengan menarafkan kapal mereka ke taraf lebih rendah, Kruiser sebagai pembinasa, kapal pembinasa mereka sebagai frigat, dan frigat sebagai korvet. Malah kadangkala korvet juga dipanggil OPV.
Walaupun tiada konsensus yang menyeluruh, secara mudah sebuah kruiser dianggap kapal yang mampu menangani ancaman ketiga-tiga dimensi peperangan maritim iaitu, peperangan permukaan, peperangan bawah air dan anti udara. Pembinasa pula dilengkapkan bagi menghadapi dua dari tiga dimensi dengan peranan sekunder untuk dimensi yang ketiga. Frigat ialah kapal yang dikhususkan untuk mengatasi hanya satu dimensi ancaman dengan peranan sekunder yang lain. Korvet pula dianggap frigat yang kecil.
Kapal-kapal perang moden bergantung kepada teknologi peluru berpandu dan radar pengesan. Pertempuran berlaku dalam jarak yang menjangkau beratus-ratus batu nautika tanpa menyaksikan armada lawan. Penggunaan peluru berpandu juga mencepatkan tempo peperangan memaksa reaksi yang cepat dari kedua-dua pihak yang berlawan. Di era moden ini juga penggunaan perisai tidak lagi praktikal untuk menahan serangan peluru berpandu menyebabkan kapal-kapal moden menggunakan pengumpan chaff dan flare.

 Designasi kapal perang moden

Bagi memudahkan klasifikasi kapal-kapal perang moden NATO telah mencipta designasi sebagai rujukan. Designasi ini sebahagian dari Standard Agreement ataupun STANAG. Sistem ini diikuti banyak negara kerana didapati lebih bermaklumat. Designasi-designasi ini biasanya dapat dilihat pada awalan nombor pennant kapal.
Designasi umum NATO STANAG1 Naval Ensign of Russia.svg
Tentera Laut Rusia
Naval Ensign of the United Kingdom.svg
Tentera Laut Diraja
Civil and Naval Ensign of France.svg
Tentera Laut Perancis
Kapal pengangkut pesawat CV - Aircraft carrier, general and multi-role TAKR - Tyazholyi Avianesushyi Kreyser R - Aircraft carrier R - Aircraft carrier
Kapal pengangkut pesawat nuklear CVN - Aircraft carrier, as CV but with nuclear propulsion TAKR - Tyazholyi Avianesushyi Kreyser R - Aircraft carrier R - Aircraft carrier
Kapal pengangkut pesawat ringan CVS - Aircraft carrier, anti submarine warfare, ASW PKR - Protivolodochny Kreyser R - Aircraft carrier R - Aircraft carrier
Kapal pengangkut helikopter CVH - Helicopter carrier PKR - Protivolodochny Kreyser R - Aircraft carrier R - Aircraft carrier
Kapal tempur BB - Battleship
B - Battleship B - Battleship
Kruiser CG - Guided missle cruiser RKR - Raketny Kreyser C - Cruiser C - Cruiser
Kruiser nuklear CGN - Guided missle cruiser with nuclear propulsion ARKR - Atomnyi Raketny Kreyser C - Cruiser C - Cruiser
Pembinasa DD - Destroyer EM - Eskadrenny Minonosets D - Destroyer D - Frégate
Pembinasa DDG - Guided missle destroyer BRK/EM - Bolshoy Raketny Korabl/Eskadrenny Minonosets D - Destroyer D - Frégate
Pembinasa pengiring DDE - Destroyer escort (Canada)
D - Destroyer D - Frégate
Pembinasa berhelikopter DDH - Destroyer, helicopter carrying (Canada)
D - Destroyer D - Frégate
Pembinasa DDK - Destroyer (Japan)
D - Destroyer D - Frégate
Pembinasa anti kapal selam
BPK - Bolshoy Protivolodochny Korabl D - Destroyer D - Frégate
Pembinasa anti kapal selam
BPK - Bolshoy Protivolodochny Korabl D - Destroyer D - Frégate
Frigat FF - Frigate SKR - Storozhevoy Korabl F - Frigate F - Frégate
Frigat FFG - Frigate, guided missle SKR - Storozhevoy Korabl F - Frigate F - Frégate
Frigat FFH - Frigate, helicopter carrying (Autralia)
F - Frigate F - Frégate
Korvet FS - Corvette MRK - Maly Raketny Korabl K - Corvette F - Aviso
Korvet FSG - Corvette, guided missle MRK - Maly Raketny Korabl K - Corvette F - Aviso
Korvet anti kapal selam
MPK - Maly Protivolodochny Korabl K - Corvette F - Aviso
Kapal selam SS - Submarine PL - Podvodnaya Lodka S - Submarine S - Sous-Marin
Kapal selam penyerang SSK - Patrol submarine, non nuclear long range PL - Podvodnaya Lodka S - Submarine S - Sous-Marin
Kapal selam penyerang nuklear SSN - Attack submarine, nuclear powered PLA - Atomnaya Podvodnaya Lodka S - Submarine S - Sous-Marin
Kapal selam penyerang nuklear SSGN - Attack submarine, nuclear powered PLARK - Atomnaya Podvodnaya Lodka Raketnaya Krylataya S - Submarine S - Sous-Marin
Kapal selam balistik nuklear SSBN - Attack submarine, nuclear powered, ballistic missle PLARK - Atomnaya Podvodnaya Lodka Raketnaya Krylataya S - Submarine SNLE - Sous-Marin Nucléaire Lanceur d'Engins
Kapal pendarat LL - Amphibious vessel, general
L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat LCC - Amphibious command ship
L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat anggota LCP - Landing craft, personnel
L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat LHA - Amphibious assault ship, general
L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat LHD - Amphibious assault ship, using helicopters, landing craft with v/stol aircraft and/or ASW helocopters BDK - Bolshoy Desantny Korabl L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat anggota LPA - Amphibious transport, personnel, carries LCPs BDK - Bolshoy Desantny Korabl L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat LPD - Amphibious transport, dock with helicopter operations platform
L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat LPH - Amphibious assault ship, helicopter carrier
L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal pendarat LST - Landing ship, tank MDK - Maly Desantny Korabl L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Hoverkraf LCAC - Landing craft, air cushion MDK - Maly Desantny Korabl na Vozdushnoy Podushke L - Amphibious vessel L - Amphibious vessel
Kapal penyapu ranjau MM - Mine warfare vessel, general


Kapal penyapu ranjau MCM - Mine countermeasures vessel TSh - Tral'shik M - Minehunter M - Minehunter
Kapal penyapu ranjau MSO - Minesweeper, ocean MTSh - Morskoy Tral'shik M - Minehunter M - Minehunter
Kapal penyapu ranjau MSC - Minesweeper, coastal RT - Reydovy Tral'shik M - Minehunter M - Minehunter
Kapal periuk api ML - Minelayer ZM - Minny i Setevoy Zagraditel ML - Minelayer ML - Minelayer
Kapal ronda laju PC(F) - Patrol craft, general (fast) Pelbagai P - Patrol craft P - Patrol craft
Kapal ronda laju PG(F)(G) - Patrol gunship, (fast) (guided missle) Pelbagai P - Patrol craft P - Patrol craft
Kapal ronda luar pantai OPV - Offshore patrol vessel
P - Patrol craft P - Patrol craft
Hidrofoil PHM - High speed hydrofoil with SSM capability


 Komposisi armada laut moden

 Kapal pengangkut pesawat

Kapal pengangkut pesawat (aircraft carrier) ialah kapal perang terbesar yang berada dalam perkhidmatan di seluruh dunia. Kapal ini dibina untuk melancarkan dan mendaratkan jet-jet pejuang apabila sesebuah negara itu tidak dapat mengoperasikan sebuah pangkalan udara dalam jarak operasi.

 Kapal tempur

Kapal tempur (battleship) merupakan sebuah jenis kapal perang yang aktif pada era Perang Dunia Ke-2. Kini tidak lagi dioperasikan atas sebab-sebab tertentu. Kapal perang induk yang besar dan digunakan untuk mencari dan memusnahkan kapal perang lain dalam armada musuh.

 Kruiser

Penjajap (cruiser) merupakan sebuah kapal perang yang bersaiz lebih kecil berbanding sebuah kapal perang. Kebanyakkan kapal penjajap yang berada dalam perkhidmatan tentera laut dunia ini digunakan untuk tujuan pertahanan udara sebagaimana dalam armada Tentera Laut Amerika Syarikat dan Rusia.

 Kapal pembinasa

Kapal pembinasa (destroyer) ialah sebuah kapal perang yang lebih kecil saiznya berbanding sebuah Kruiser namun lebih besar berbanding sebuah frigat.

 Frigat

Sebuah kapal perang bersaiz kecil dan merupakan jenis kapal perang kebanyakan tentera laut serata dunia. Mampu menguruskan situasi ancaman taraf rendah dan sederhana dan masih merupakan satu platform yang mahal

 Korvet

Kapal yang lebih kecil berbanding frigat, selalunya digunakan dalam keadaan situasi ancaman tahap rendah dan sering digunakan sebagi kapal peronda.

 Kapal selam penyerang

Pemburu atau dalam terma Tentera Laut Amerika Syarikat, Hunter-Killer merupakan sebuah platform yang dibina khusus untuk mencari dan memusnahkan kapal selam lain.

Kapal selam penyerang peluru berpandu

Kapal selam yang khusus dibina untuk membawa peluru berpandu yang mampu menyerang dan membinasakan sasaran dari jauh.

 Kapal selam balistik

Pembawa peluru berpandu berpeledak nuklear.

 Kapal sokongan

Bagi membolehkan armada sesebuah tentera laut beroperasi dengan lebih efisyen dan mantap, kebanyakkan tentera laut serata dunia mempunyai pelbagai kapal sokongan dalam armadanya.
Secara amnya terdapat beberapa jenis lagi kapal sokongan.
  • Kapal MCMV (Mine Counter Measure Vessel) - Pemburu periuk api
  • Kapal Hidrografik
  • Kapal Hospital
  • Kapal Amfibi Pendarat Kereta Kebal
  • Kapal Platform Pendarat Helikopter
  • Kapal Platform Pendarat Anggota


Kapal Asing 

Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing
Kapal asing





Kapal asing